Welcome To My Blog

Rabu, 25 Januari 2012

Al-Hayiy

salamah in Aqidah. Ditandai:, , , . Diantara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha Pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda :
“Sesungguhnya Alloh Maha Pemalu dan Pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” [Shahih, HR.Abu Dawud no.1488 dan Tirmidzi no.3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi]
Dari Ya’la radhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa memakai sarung. Maka Nabi naik mimbar dan mengucapkan pujian serta sanjungan kepada Alloh subhanallohu wa ta’ala, kemudian berkata :
“Sesungguhnya Alloh Maha Pemalu dan Maha Menutupi. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutupi, maka bila seseorang dari kalian mandi hendaklah dia menutup diri.” [Shahih, HR.Abu Dawud no.4012, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Lihat juga Al-Irwa' no.2335]

Ibnul Qayyim mengatakan :
Dan Dialah Yang Maha Pemalu, maka Dia tidak akan membeberkan aib hamba-Nya
Saat dia terang-terangan melakukan kemaksiatan,
Namun justru Dia lontarkan tirai menutupinya
Memang Dia Maha Menutupi dan Pemberi Ampunan
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras menjelaskan: “Dalam hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam terdapat penyebutan sifat malu bagi Alloh, seperti dalam hadits (Salman Al-Farisi diatas). Juga seperti dalam ucapan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tentang tiga orang yang mendapati majelis Nabi :
“Salah seorang dari mereka berlindung kepada Alloh ta’ala, maka Alloh pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Alloh pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Alloh berpaling darinya.” [Shahih, HR.Bukhari no.66 dan Muslim]
Sifat malu Alloh ‘azza wa jalla adalah sifat yang pantas bagi Alloh, tidak seperti sifat makhluk. Dimana sifat malu pada makhluk mengandung perubahan dan kelemahan yang memengaruhinya yaitu ketika dia merasa khawatir dari sesuatu yang aib atau tercela. Bahkan sifat malu Alloh artinya meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keluasan rahmat-Nya dan kesempurnaan kedermawanan-Nya, kemurahan-Nya serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya.
Sementara seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada-Nya padahal dia sangat butuh kepada-Nya dan paling lemah di hadapan-Nya. Bahkan dia memakai nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Akan tetapi Alloh tabaroka wa ta’ala dengan kesempurnaan sifat ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk dan kesempurnaan sifat kemampuan-Nya, Dia malu untuk menyingkap tabir aib hamba-Nya. Bahkan Alloh menutupinya dengan sebab-sebab yang Alloh persiapkan untuk menutupinya. Lalu setelah itu Alloh memaafkan dan mengampuninya seperti dalam hadits Ibnu Umar radhiyallohu ‘anhu :
“Sesungguhnya Alloh mendekatkan kepada-Nya seorang mukmin lalu Alloh menutupkan pada dirinya penutupnya. Kemudian Alloh bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?’ Maka hamba itu pun mengatakan: ‘Ya, Wahai Rabbku’. Sehingga ketika Alloh meminta dia mengakui dosanya lalu dia pun yakin bakal hancur, Alloh mengatakan kepadanya: ‘Aku telah tutup dosa itu padamu didunia. Dan pada hari ini aku ampuni kamu’.” [Shahih, HR Bukhari no.183]
Demikian pula Dia malu untuk menyiksa seorang yang berada dalam agama Islam sampai beruban, dan malu dari hamba-Nya yang berdoa menengadahkan dua tangannya, lalu mengembalikannya dalam keadan hampa. Karena Alloh Maha Pemalu dan menutupi, maka Dia menyukai pada diri hamba-Nya sifat malu dan tidak mengumbar aib. Maka barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Alloh akan menutupi aibnya didunia dan akhirat. Alloh juga membenci orang yang terang-terangan dengan kefasikan (maksiat)nya serta terang-terangan dengan kekejiannya.
Diantara orang yang paling Alloh benci adalah orang yang bermalam melakukan maksiat dan Alloh menutupinya, lalu dia sendiri yang membuka tutup aib itu di pagi harinya. Alloh juga mengancam orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan akhirat. Dalam hadits disebutkan :
“Semua umatku diberi maaf kecuali orang-orang yang terang-terangan (dengan dosanya).”
BUAH MENGIMANI NAMA ALLOH AL-HAYIY
Dengan mengimani nama Alloh Al-Hayiy maka kita mengetahui keluasan ampunan Alloh dan kemurahan-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya justru terus  berbuat maksiat tanpa rasa malu kepada Dzat Yang Maha pemalu, tentu yang demikian sangat dibenci Alloh.
Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Alloh. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya. Suatu hal yang teramat dibenci Alloh Yang Maha Pemalu. Sehingga dengan hilangnya rasa malu, tak ada beban lagi bagi mereka untuk bergaul bebas dengan lawan jenis, bercanda ria, berjalan bersama, dan lebih dari itu. Malu rasanya mengungkapkannya…
Sungguh hal yang sangat memprihatinkan kita bersama. Inikah sebagian hasil pendidikan umum ? Cobalah para guru dan para pendidik mengkaji ulang metode dan lingkungan pendidikan mereka, demi meraih ridha Alloh Yang Maha Pemalu serta demi masa depan moral dan agama anak-anak muslimin.
oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
disalin dari majalah Asy-Syariah No.55/V/1430 H/2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share This